Malam yang Begitu Lengang

Malam yang Begitu Lengang

Asep Romli

Angin menderu. Udara malam diluluri hujan yang jatuh bagaikan jarum-jarum air, berlepasan dari langit. Pada kaca jendela, serpihan air itu mengembun. Deru anginlah yang telah melontarkannya ke situ. Dan ketika kaca jendela itu kuraba, dinginnya begitu terasa. Kusimak titik-titik cahaya yang samar di luar. Bola-bola lampu diselubungi guguran air. Dingin dan rasa sunyi tumpang tindih. Sungguh, ini malam tak beruntung dalam lingkaran musim yang basah. Dan aku kembali merasakan tohokan-tohokan itu, seperti malam-malam dulu yang terasa panjang, setiba menginjak kota ini lagi, Guaba, yang kusaksikan telah jauh sekali berubah.

Di Warao Street senja kemarin, di bawah billboard Restoran Medicio, lima orang pemusik jalanan memainkan Jazz dalam tetesan gerimis. Aroma laut tercium tajam dari tempat itu. Di dalam restoran, orang-orang menunggu kumandang adzan magrib sambil memandang ke arah laut yang tengah berubah warna. Aku berdiri diantara kerumunan orang, mendengar lagu Back to You dimainkan pemusik jalanan. Keping-keping uang logam kujatuhkan ke dalam kotak gitar yang terbuka di atas trotoar –jiwaku terseret alunan lagu itu, hingga ingatan pun melenting pada suatu masa yang terasa jauh. Beberapa orang bertepuk tangan dan sebagian yang lain meminta refrain lagu itu diulang. Ketika kurasakan ada yang menepuk pundakku, sontak saja aku menoleh. Di sebelahku telah berdiri seorang laki-laki mengenakan kemeja motif kotak-kotak dengan lengan kemeja yang digulung –saling pandang kami sekejap, sebelum kemudian kuseru namanya, dan kurangkul ia, erat sekali. Ogren Mutere, salah seorang karib semasa di universitas. Kami pun saling menepuk-nepuk bahu.

“Oii, kemanakah angin telah menghembuskanmu selama ini?” Ogren bertanya sambil setengah menyeretku menjauhi kerumunan ketika terdengar suara adzan magrib di kejauhan. Aku tersenyum.

“Hhhh, angin telah menghembusku menuju perjalanan yang begitu terjal,” jawabku.

Lalu kami memasuki sebuah restoran. Sambil menunggu pelayan menghampiri meja kami, kurogoh sebungkus rokok dari dalam ransel Canno, kuambil sebatang dan menyulutnya setelah membasahi tenggorokan dengan segelas air mineral. Kuhisap rokok, dalam sekali, dan kulihat dari mulut Ogren pun kepulan asap mulai menguar ke udara. Ia menghujaniku dengan begitu banyak pertanyaan dalam artikulasinya yang gopoh. Kadang pula setengah berseloroh, yang lebih banyak kujawab dengan sunggingan senyum. Angin menusuk tajam dan gerimis telah berubah jadi hamburan hujan. Ia memesan Grilled Beef Sandwich dan mengusulkan padaku Spagheti Bolognaise yang menurutnya paling enak di tempat itu. Tapi kubilang padanya, aku sudah lama sekali tidak mencecap makanan-makanan kesukaanku. Ia terkekeh-kekeh dan lantas membacakan beberapa makanan yang tercantum di daftar menu. Aku tergiur untuk memesan sop buntut ala Banaguka. Disela-sela makan itu, Ogren kemudian bercerita bahwa ia telah lama bekerja pada sebuah majalah Lifestyle. Dan istrinya bekerja paruh waktu sebagai guru privat bagi anak-anak ekspatriat –istrinya juga kukenal, Andini, sahabat dari Renata Mozareta. Mereka telah dikaruniai seorang anak, laki-laki.

“Lantas pekerjaanmu, masihkah melulu berurusan dengan laut?”

“Hhhmm, begitulah.” Aku mendesah. Kusisihkan piring dan mangkuk-mangkuk yang telah kosong. Seluruh isinya telah beralih ke dalam lambung. Dengan isyarat tangan kupanggil seorang pelayan untuk membereskan meja kami. Untuk sekedar menghangatkan tubuh, kutuangkan Chateau de Bellevue ke dalam gelas berbentuk piala yang telah ditaburi lempengan-lempengan es. Harum aroma minuman itu menyeruak ke udara.

“Kau baru datangi lagi kota ini? Oii, setelah bertahun-tahun kautinggalkan?” Aku menjawab dengan anggukan yang lemah. Entahlah, tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang berdesir dalam rongga-rongga dadaku.

“Seberapa lama kau akan tinggal di kota ini? Adakah terlintas keinginanmu untuk benar-benar kembali, dan menetap di sini?”

“Entahlah.” Pertanyaan itu tiba-tiba membuatku berpikir akan sesuatu.

“Huhh, tak rindukah kau pada kota ini, sebuah tempat yang telah merangkaikan begitu banyak kenangan dan mimpi-mimpi utopia bagi kita.” Kami sama-sama tertawa. Tawa yang tak sungguh-sungguh lepas. Dan sehabis itu kami kembali diam, menerawangi entah apa. Kuhabiskan minumanku dalam beberapa kali teguk. Lalu Ogren menuangi gelas kami masing-masing dengan perasan jeruk yang diseduh dengan air panas.

“Hmm, jadi selama ini angin telah menyeretmu menuju perjalanan dengan ombak-ombaknya yang begitu terjal?”

“Hhh, begitulah.” Kami kembali terdiam untuk saat yang cukup lama, membiarkan ingatan bergerak pada suatu masa yang telah lama memudar; menyusuri jejak-jejak yang tercetak dalam kenangan yang terasa begitu lembab. Alangkah sendunya memandang cahaya di kejauhan itu, cahaya yang berasal dari lampu rumah-rumah di pesisir pantai. Sedang di tengah laut yang jauh, kegelapan tak terelakan.

“Aku yakin sekali Andini akan senang bila malam ini kau turut bersamaku.” Aku berpikir, menimbang-nimbang tawarannya. Namun yang lantas kukatakan adalah penolakan. Sebenarnya ada sesuatu yang sangat ingin kutanyakan padanya; tentang seseorang. Tetapi kuurungkan, kutahan diriku untuk suatu alasan yang aku sendiri tak ketahui dengan pasti.

“Bagaimanakah kabar Lambuga dan yang lainnya? Masih seringkah kau bertukar kabar dengan mereka?” Hanya itu yang akhirnya keluar dari mulutku, benar-benar tak lebih, meski sesungguhnya begitu ingin menanyainya soal lain.

Ogren bercerita tentang karib-karib kami: mengenai Lambuga yang katanya bergiat di LSM. Kemudian ia menyinggung pula Yularsyah Mutar dan Pen Dulaw. Mereka masih saling berkirim kabar, lewat telpon ataupun email. Cuma aku sedikit terkejut dengan ceritanya soal Yularsah Mutar. Kudengar dari mulut Ogren bahwa ia kini telah menjadi salah seorang pejabat penting di pemerintah pusat, dan tinggal di komplek rumah-rumah elite di kota Batavarel. Padahal aku ingat sekali, dulu semasa di universitas, dialah yang seakan paling alergi terhadap pejabat pemerintah. Bahkan ia termasuk salah seorang aktivis mahasiswa yang pernah diculik, karena hampir dalam setiap demontrasi, orasi-orasinya begitu lantang; ia menuding bahwa segala kesemerawutan di negeri ini adalah sebagai akibat dari ulah para politisi dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan sebagai pemerintah. Ia, bahkan menggunakan idiom yang paling jijik untuk menyebut elit politik dan para pejabat itu: ia mengatakan mereka itu sampah. Itu karena, menurutnya, elit politik dan pejabat pemerintah hanyalah tiran dengan jiwa yang rakus dan serakah. Mereka itulah para koruptor. Maka wajarlah bila citranya menjadi sangat bau dan kotor: layaknya sampah, katanya. Dengan ingatan akan hal itu, aku menghela nafas yang dalam dan panjang.

Ogren meninggalkan secarik kartu nama. Hujan saat itu sudah mereda. Jalan-jalan basah digenangi air. Di tempat di mana kami semula bertemu, di bawah billboard sebuah restoran –saat itu tak kutemui lagi para pemusik jalanan, entah sudah beranjak kemana, dan huruf-huruf pada billboard itu susunan atas lampu-lampu yang sangat kontras warnanya, berkelap-kelip di atas kepalaku—kami pun berpisah. Kuperhatikan punggung karibku itu ketika ia hendak berlalu. Ada perasaan sesal, dan jelas aku sangat mengutuk diriku; kenapa tak ada keberanian sedikitpun untuk menanyakan Renata? Kulihat tiba-tiba Ogren berhenti, menoleh padaku, dan berkata: “Hei, aku mau mengingatkanmu, kau sempatkan mampir ke rumah kami bila nanti benar-benar akan meninggalkan lagi kota ini. Dan tahukah kau kabar Renata? Tidakkah kau ingin ketahui bagaimana keadaannya sekarang? Dengannya kami masih sering bertemu. Mampirlah, nanti kuceritakan. Namun, yang mesti kau tahu adalah satu hal, ia selalu menunggumu.” Lalu ia pun benar-benar hilang, diantara lalu-lalang orang dan kegelapan. Aku, untuk beberapa saat masih saja mematung, tercenung sendirian disesah kelebatan bayang-bayang masa silam. Kurasakan batinku begitu terhimpit.

Kini, di tengah gelombang hujan yang tempias ke dasar jiwaku, dalam kesendirian di sebuah kamar hotel di ujung Lafayete Street, kubiarkan seluruh tubuhku dikeramasi oleh bayang-bayang masa silam; dari musim yang telah meleleh. Besukan rasa ngilu tiba-tiba seperti menyengat, serupa dentang lonceng pada malam-malam senyap atau saat suara yang lainnya lindap. Gemanya diam-diam telah menyelinap ke dalam degup jantungku, membuahi jam-jam terlelap, lalu berbiak menjadi mimpi-mimpi yang kisruh: suara burung gagak hitam berkoar-koar saat hinggap di reranting pohon silveroak yang menjulur ke atap rumah.

“Lambuga, beberapa malam ini mimpiku selalu tentang burung-burung gagak hitam.” Kuceritakan ikhwal mimpi itu kepada Lambuga, pada suatu hari ketika angin kering bertiup.

“Hmm, adakah itu merupakan suatu isyarat?” Ia balik bertanya.

“Entahlah, tapi perasaanku selalu tak menentu beberapa hari ini.” Kami lantas menyulut rokok dan mengalihkan pembicaraan pada soal-soal politik dan rencana demontrasi sewaktu kami sama-sama tak mampu menafsirkan mimpi-mimpi itu.

Dan hanya beberapa hari selewat itu, headline setiap surat kabar memberitakan ribuan tentara telah dikirim ke Nangarok sebab di sana meletus pergolakan. Aku terkesiap –Nangarok, kota kecil itu masih di bawah Distrik Accare, dan persis berbatasan dengan Badazong, tanah lahirku, ribuan mil jaraknya dari Guaba. Ketika saat itu kuhubungi keluargaku, segeralah kuketahui apa yang terjadi di sana. Kudengar bahwa kekacauan itu cepat sekali menjalar, bahkan telah menyentuh Badazong. Selebihnya adalah isak tangis ibu di telepon. Dan ibu kian tersedu sewaktu kutanyai mengenai keadaan bapak. Ibu bilang: Bapak telah dibawa oleh tentara. Kau tahu, saat itu dadaku serasa disayat-sayat sembilu —aku takkan dapat menghapus ingatan akan hal itu sepanjang hidupku—terus tersedu sepanjang senja itu, ketika angin yang begitu kering berliukan di sela-sela batang jagung yang tumbuh di ladang-ladang sekitar asrama. Renata, siapakah yang telah mengirimkan sungkawa ini ke dalam jiwa kita?

Itu bertahun-tahun telah berlalu. Kutandai hari ketika aku pulang ke Badazong untuk menyaksikan penggalian kembali kuburan-kuburan masal itu; bersama orang-orang aku memanjatkan serangkaian doa untuk menyempurnakan arwah-arwah mereka yang telah menjadi korban penembakan. Ibu tiada hentinya tersedu menyaksikan itu —tulang-belulang berserakan, hingga tak bisa kupastikan yang mana tulang-tulang dari jasad bapakku.

Hari-hari terasa runcing selepas itu, keras dan tajam. Badazong tak henti menggetarkan gelombang-gelombang kelam. Dan ketika aku kembali ke Guaba, kota itu pun bagai bayang-bayang penjara, yang mengepungku bersama kepedihan, terus menimbuniku dengan kesedihan. Kepalaku berletupan dijerang berbagai kecamuk yang pada akhirnya menyeretku pada kesuntukan; kemeranaan yang mendalam. Selebihnya adalah ingatan yang payau, merangkak-rangkak dalam arakan bayang-bayang mendung. Hingga suatu hari kuputuskan untuk meninggalkan universitas, karib-karib, dan Renata. Aku mengendap-ngendap pergi, seperti kabut di bukit-bukit sunyi: kutumpangi sebuah kapal yang bergerak membelah ombak pada malam yang pekat. Kutinggalkan untuk Renata, sepucuk surat yang perih.

 

***

Badazong, aku kini tengah merasai keinginan untuk pulang. Tetapi aku tak tahu mesti kemana? Guaba dengan silhuet musim basah terasa jadi begini asing; menggelontorkan sedu dari tiap runtuhan waktu. Bertahun-tahun telah berlalu dari peristiwa itu. Tetapi dengan kepedihannya aku tak pernah berjarak: di pelipisku masih saja bayang-bayang kerusuhan itu bersenandung, bergaungan bersama rentetan suara tembakan.

 

Siapakah yang kali ini harus kudatangi. Tak mungkin nama-nama dari mereka yang tak lagi ada. Tak mungkin. Mereka telah begitu jauh –aku hanya bisa mengunjunginya dengan ingatan, dan bertemu mereka cuma dalam kenangan: sebatas menyapa, dengan doa yang selalu terhenyak sewaktu kudesahkan.

Kuteguk Cappucino ketika seluruh endapan dalam rongga-rongga kepalaku diseduh dan diaduk-aduk jemari kenangan: jarum-jarum yang menikam. Amboi, kepalaku serupa kota yang tengah ricuh. Kunyalakan televisi: ribuan tentara Ameraksus di Teluk Zabaza tengah bersiaga untuk melancarkan serangan terhadap Hiracruz. Kupindahkan pada saluran lain: berita tentang seorang ibu dan anak balitanya yang meninggal akibat kelaparan, bayi-bayi dengan gizi buruk, kemiskinan, pengangguran, penggusuran pedagang kaki lima dan pemukiman kumuh di Batavarel dengan alasan untuk menciptakan ruang terbuka hijau, kenaikan harga bahan pokok, banjir dan jalan-jalan yang rusak, berita korupsi, wabah flu babi, dan demontrasi di mana-mana. Zlepp, televisi kumatikan. Aku lari terbirit-birit keluar kamar, kutembus aliran-aliran angin. Hujan masih berjatuhan. Kulewati deretan bangunan yang searah dengan pelabuhan: penginapan, pabrik-pabrik industri, dan warung-warung yang remang.

Di atas kapal kutemui Umbay, lelaki dari Malino yang telah belasan tahun mengendus bau lautan, tengah membolak-balik City Magazine yang sampulnya bergambar trap-trap air mancur dengan lanskap gedung-gedung bertingkat. Kaleng-kaleng softdrink di atas meja, puntung rokok, plastik bekas kemasan makanan, dan kotak-kotak Pizza berserakan.

“Hei, kau tak nampak bergairah melewatkan malammu,” katanya, sembari meletakan majalah. Aku mengangkat bahu. Sepintas lalu kudengar suara-suara wanita. Mereka datang  untuk maksud tertentu. Barangkali, sesuatu itu sudah dianggap lumrah bagi sebagian rekannya, untuk malam-malam seperti ini, dan untuk kehidupan mereka yang menyulam hari-harinya dengan angin, debur ombak, dan rasa sepi –para pelaut, di mana pun, pada saat berlabuh seperti ini.

“Kau lebih murung, Ombang.” Umbay mendakwa dengan mulut mengunyah pizza. Ketika aku hanya diam dan tak melontarkan sepatah kata pun untuk beberapa saat yang ditunggunya, ia segera berlalu setelah menepuk bahuku dua kali. Ia pasti tahu, aku sedang tak berhasrat untuk bicara.

Aku selonjorkan kedua kakiku dengan kepala bersandar pada lengan kursi. Kukeluarkan kartu nama Ogren Mutere dan membayangkan sebuah rumah pada alamat yang tertera di situ: Diagobu Resort. Itu sebuah kawasan yang bagus semenjak dulu, dengan pohon-pohon besar dan rindang peninggalan zaman kolonial tumbuh rapat di tepian jalan. Aku mendesah. Kulirik arloji digitalku: waktu sudah begitu larut.

Ketika hujan reda, aku segera naik ke geladak melalui tangga-tangga yang dingin. Telah kuputuskan bahwa aku tidak akan melewatkan undangan Ogren. Kuyakinkan diriku bahwa aku harus mampir ke Diagobu Resort. Kukira, bila hal itu kuabaikan mungkin akan sangat buruk akibatnya. Tapi aku juga belum tahu pasti: akankah baik pula bila aku memenuhinya? Firasatku merasa bahwa aku akan menemukan sesuatu bila aku ke sana –dan rasa-rasanya akan bertemu Renata Mozareta. Tapi sesungguhnya, aku pun sedang mengingat dirinya saat ini. Tuhan pun tahu itu. Dan aku sendiri tak hendak mengingkarinya. Sebab bila itu kulakukan, berarti aku telah mengelabui diriku sendiri. Namun kenapa aku jadi begini risau? Terlampau risau malah. Barangkali, kerisauanku bersebab oleh suatu rasa takut: bahwa aku takut akan mendapati kenyataan yang kelak akan melukai diriku. Entahlah. Renata, kini jiwaku tengah menyentuhmu, membelaimu dengan pedih.

Besi-besi dingin. Udara juga dingin. Aku dihempaskan pikiran lain lagi, oleh sesuatu yang menggelosoh dari kanal-kanal perasaanku. Kulemparkan sebuah minuman kaleng yang telah kosong ke laut –sebenarnya itu takkan membantu apa-apa, aku tahu. Tapi jiwaku sangat tertekan. Aku sempoyongan dalam gamang: bisikan siapakah yang terus menggaung dalam pikiranku? Tuhankah? Atau hanya angin? Kenapa suaranya selalu berkibasan dalam diriku?

Lama aku termenung. Suara-suara dalam diriku mengusung raut wajah ibu. Badazong tak cukup hanya dikoyak kericuhan dan gemuruhnya peristiwa penembakan. Tahun-tahun yang beringsut selewat itu menyusun serpihan dari hari-hari yang kusut-masai dan rasa kehilangan–badazong pun mulai merias dirinya kembali. Tetapi ibu masih kerap tersedu —itu terangkum dalam suaranya bila sesekali kutelpon ibu. Dan kata orang-orang, ibu sering menghabiskan waktunya dengan menziarahi kuburan masal di bukit Lohji. Begitulah ibu melalui hari-harinya, melewatkan tahun demi tahun, selepas bapak tak pernah lagi pulang. Hingga tiba suatu hari, ketika ibu tak mau kembali ke rumah —ibu memutuskan untuk menjadi penjaga kuburan di bukit Lohji itu. Tak ada orang yang bisa menahan keinginan ibu. Tidak juga aku.

Tetapi agaknya hal itu juga yang –tentunya itu atas kehendak Tuhan— telah membuatnya luput dari bencana yang lain. Pada suatu hari, ketika seluruh Badazong hancur tersapu gelombang pasang, dan kota itu beserta para penghuninya luluh-lantak. Dari cerita ibu, saat kejadian itu tiba-tiba dirasakannya tanah bukit Lohji berguncang. Sejurus kemudian ia lalu mendengar suara gemuruh dari arah laut. Ibu terhenyak: dari atas bukit disaksikannya bagaimana air laut itu tiba-tiba naik dan warnanya jadi begitu hitam, bergulung-gulung menuju pantai, menerjang hingga bermil-mil ke daratan, melumat seluruh kota. Dan lagi-lagi, yang tersisa adalah kuburan-kuburan masal. Lalu ibu pun pergi, tak lama setelah peristiwa itu.

Dan kini, apakah yang dinamakan Badazong? Selain dari ribuan tonggak; nisan-nisan yang tak bernama.

 

Titik cahaya fajar sebentar lagi akan pijar. Suara kesibukan pun berangsur pulih, tumbuh diantara lengking peluit dari kapal-kapal yang hendak berlabuh ataupun menjauh. Dan ombak tak bosan mematuki dinding pelabuhan. Aku masih mengingat saat-saat yang telah berkelebat, hari-hari yang meletihkan serta malam-malam rawan: hantaman ombak, arus yang memusar, petir dan cuaca buruk, atau angin yang berubah arah, juga jilatan badai. Perjalanan ini rasanya teramat ngilu.

Aku menyimak lampu-lampu dari kapal dan perahu nelayan berkelipan di tengah lautan. Sepintas lalu tampak serupa titik-titik cahaya dari rumah-rumah atau pemukiman. Atau seperti ribuan kunang-kunang. Sesekali lampu-lampu itu menghilang, seperti tenggelam ke dalam lautan. Timbul dan tenggelam. Nun, di sana, lebih jauh lagi —ribuan mil dari tempat ini— Badazong, tanah lahirku, masih kubayangkan dengan seluruh ingatanku. Kuhirup jerit tertahan dari arah sana. Dan dalam kegelapan, Guaba masih juga mengalirkan getar-getar yang asing. Keredap lampu plaza dan menara di tengah kota terlihat lebih pucat. Juga gedung-gedung perkantoran, pabrik, dan rumah-rumah.

Barangkali, tak ada seorang pun yang mengira bila aku, saat ini, tengah memperhatikan seluruh kota dengan perasaan terguncang. Mungkin tak seorang pun yang tahu, bila aku tengah menatap lampu-lampu yang menyala di rumah-rumah mereka dengan ingatan yang terluka. Juga kau, niscaya takkan percaya, bila dulu aku pernah menikahi seseorang bernama Renata. Tapi ia telah kusia-siakan; kutinggalkan dirinya begitu saja. Maka, bila aku merasa demikian tersiksa, itu semata karena dosa-dosaku yang tak terhingga. Ya, akulah si pendosa. Kini, setiap mengingatnya, haruskah selamanya aku merasa tersiksa begini rupa?

Badazong, aku kini tengah merasai keinginan untuk pulang. Sebentar lagi, lebaran menjelang, dan orang-orang akan berduyunan menuju kampung halaman. Mudik. Tetapi aku tak tahu mesti pulang kemana? Aku tak lagi punya siapa-siapa, tak juga sanak atau saudara. Guaba dengan silhuet musim basah terasa jadi begini asing; terus menggelontorkan sedu, dari tiap putaran waktu.

 

 

——————————————————————————————————-

*Penulis adalah alumni Sastra Indonesia Unpad, Angkatan 1992

 

Image Credits: , Public Domain

logo-200x150

Kontak

Jl. Raya Bandung - Sumedang KM 21 Jatinangor, Sumedang

admin@ikasadaya.id

Copyleft 2017 © IKA Sadaya UNPAD