Lelaki dan Angin Lembab

Lelaki dan Angin Lembab

Sufy

Chapter 1

Lagi- lagi aku harus menunggu dalam udara yang lembab dan kaki yang pegal- pegal, tenda kecil semacam payung diatas tempat dudukku ini sungguh tidak cukup menaungi kecemasan yang tergambar dimukaku. Ya, dimanapun warung kopi internasional ini selalu sama penampakannya, namun yang membedakan adalah perlakuannya. Siang yang sepoi sepoi ini aku diberi kembalian koin kecil lebih kecil dari koin duapuluh lima rupiah yang pernah aku koleksi hingga jumlahnya  menjadi sekumpulan penuh dalam toples.Sudah tahu aku tidak maniak kopi, lalu mengapa aku harus memilih memesan kopi hitam untuk  mengisi waktu luang dalam waktu -waktu menunggunya?ah bedebah tukang kopi ini memang menyebalkan, sama rasanya namun sungguh tidak simpatik gerak geriknya.Aku tidak mengobarkan rasa dengki atas perbedaan warna dan lambang sampul passport,namun bedebah menyedihkan itu layak aku beri minum kopi panas pada rambutnya agar dia mengerti kalau diapun berkulit coklat seperti aku.

Semilir angin berhembus.

Dimana tukang mengamen dan peminta -minta seperti biasanya kutemui disaat aku duduk sendiri atau sekedar kongkow bersama sindikatku?ah tidak ada rupanya karena siang ini aku hanya melihat orang hilir mudik belanja seperti dikejar hantu, orang bergerombol berfoto- foto,lelaki dan perempuan bercadar sedang dilukis oleh seniman Tionghoa, wanita -wanita berkursi roda sedang memperagakan kepiawaiannya memilin- milin kawat hingga menjadi gantungan kunci, dan orang -orang yang menawarkan jam tangan pada turis dengan bentuk hidung seperti Yaser Arafat.(aku tak pernah ditawari sekalipun; hanya diujung jalan sana yang menuju sebuah doom besar dan terminal yang aku kerap kali ditawari; abang wan amoy a? cantik cantik la boleh bang) BAH! Aku muak!!aku ingin segera berpaling dari jalanan yang terbentang seperti tidak ada ujungnya sampai ke kaki bukit yang mungkin dulunya ditanami nanas oleh pendahulunya.

Tegukan Pertama.

Terasa pahit, kurang gula dan menimbulkan efek asam pada mulut. Hari itu aku merokok, karena itulah aku mendapatkan tempat ini, diluar dengan payung yang kurang menaungi seperti pemimpin yang lalim. Sekedar ingin mendapatkan kebanggaan kalau kalau rokok di tanah air adalah rokok murah dgn kualitas orisinil,maka siang itupun aku merokok sambil memandang isi dalam gelas Styrofoam. Isinya :hitam berbuih buih, tidak manis dan BANGSATTT!!aku harus membelinya dengan bertatap muka dengan bedebah yang tinggal dibelakang mesin kasir itu.Aku berlagak tenang, tidak memandang kiri kanan hanya berkutat dengan spidol dan sketchbook. Semua orang tidak tahu aku membaca peta yang diberikan resepsionis hotel lalu kuselipkan dibuku itu.Aku berusaha mengerti kemana aku akan melangkah lagi.

Aku memegang Handphone seolah olah bisa digunakan padahal tidak ada pulsanya, sok asik dalam gulungan angin yang mengencang, lantas aku mengepulkan asap dari rokok yang basah karena keringat dari telapak tanganku. Bukan yang pertama terjadi aku menunggu seseorang dalam berbagai atraksi keadaan, tapi mungkin aku juga pernah membuat orang menunggu sehingga mereka bertemu bedebah bedebah dalam tokoh yang lain. Layar handphone tertulis :NO Service. Aku tak bisa beranjak karena telah bersepakat dengan jarum jarum jam untuk bertemu seseorang disini, ditempat yang telah dicatatkan dalam GPS digital yang kordinatnya aku tidak tahu sama sekali.

Can I use this chair?” Seorang berbadan besar hitam meminta ijin padaku untuk memakai kursi kosong  disebelahku untuk didudukinya bersama teman-temannya yang sama-sama memakai gelang emas. Cukup kontras untuk kulitnya,tapi bukan itu tema pembicaraanku, biarlah dia bersenda gurau bersama teman temannya dalam bahasa yang dia mengerti.

Yes, sure!please  use that chair” Sudahlah aku hanya menjawab seperlunya karena mereka segera tertawa -tawa seperti jika aku melihat adegan lucu di film Dono. Aku tak ambil pusing karena tak ingin jauh lebih dalam mencoba mengerti apa yang mereka tertawakan.

Lalu aku menertawai diri sendiri, tersungging bersama sampah kertas yang diajak ajak angin hingga menempel pada kakiku. Ah aneh pada awalnya aku menghitung berapa teguk yang aku minum dari gelas ini, namun sekarang aku sudah tidak tahu lagi berapa kali sudah kuteguk kopi hitam yang disajikan bedebah tadi. Aku sekarang malah tergiur di kafe seberang jalan 22,5° dari posisiku kini. Turkish Ice Cream disitu tertulisnya; seorang berambut putih sedang bernyanyi -nyanyi dalam bahasanya sambil mengayunkan scoope berisi es krim warna warni.Pantas saja wanita -wanita dan anak- anak ada pada sekitarnya. Mungkin filosofinya adalah lelaki yang disukai wanita dan anak- anak adalah lelaki yang bisa menghadirkan warna- warni dalam hidup Seperti orang tua itu yang sedang tersenyum karena  dikerubuti wanita atau benar benar tersenyum tulus, hanya anak- anak yang bisa merasakan auranya. Nah bedanya?aku melihat lagi kedalam gelas yang hitam kelam dan tak habis- habis,isinya hanya kopi melulu. Ya serial warna memang tidak selengkap dalam chart pantone. Semua orang memiliki warnanya sendiri dan memilih untuk menjadi warnanya itu. Kopi..kopi..ck ck ck..apa salahmu sampai aku harus bersumpah serapah pada bedebah yang memang sampai kini kurasakan kekurang ajarannya. Apa juga salahku sampai harus menunggu hingga waktu waktu seperti ini?

Aku menunggu lagi sambil menoleh kanan kiri, rasa kopi sudah bersahabat sekarang. (mungkin karena orang berlalu lalang dengan pakaian fantastis).

Aku hanyalah lelaki.

Kosong.

Perempuan yang kutunggu itu takkan pernah datang.

Tidak ada lagi setelah Chapter 1

 

Image Credits: , Public Domain

logo-200x150

Kontak

Jl. Raya Bandung - Sumedang KM 21 Jatinangor, Sumedang

admin@ikasadaya.id

Copyleft 2017 © IKA Sadaya UNPAD