Kemarau yang Risau

Kemarau yang Risau

Tanti Kuben Koko

mencintaimu seperti sekelebat bayangan

bulan di atas kepala berkilauan di rambut usia

lenyap dalam jejak-jejak malam

menuju kenangan musim

kemarau yang risau, menjelma kerinduan menahun

adapun mengingatmu adalah tidurnya kelelawar

yang telah mengurai malam menjadi catatan

**

demi matahari yang meletakkan mimpi

aku seakan terjaga dari sunyi

ketika diriku menjelma begitu anggun dalam gaun pengantin

di dingin hati aku nyalakan lagi unggun

gairah yang hampir lepas dan terlupakan

sejak kabut menebal dan membuat bebal

kauraih kembali ketika kuulurkan tanganku dengan segenggam benih berahi

bagai Selma dalam kisah Sayap-Sayap Patah

yang melakukan ritual rahasia pertemuan di sebuah kastil sunyi

–demi sebuah pertarungan perasaan yang disangkanya sudah dalam-dalam terkubur–

pertemuan seperti burung yang sedang membuat sarang dari rumput dan ilalang, kaususuri setiap keindahan

pada wajahku kusematkan rindu: adalah perjalanan mengurai waktu

menjelma pertemuan dan catatannya tertulis di rinai hujan

ketika tanganmu meremas lentik jemariku: rindu mengekal menyebut berkali-kali namamu, ya hanya namamu!

**

mengapa di persimpangan itu

kerap kali kau ajak aku terpana

menatap awan bertepian

meninggalkan langit yang kembali enggan

menyediakan hujan kepada bumi

**

di persimpangan itu, lelakiku,

takkan kau temukan jejakku lagi: burung kelana yang tak letih, burung bebas yang kuasa terbang

dan hinggap pada goa dan cangkrang

yang selalu saja mungkin untuk kau jamah

 

ada sekian ribu lagi etape

yang mesti kita tempuh atau kemungkinan untuk beranjak!

atau aku, entah kau, entah siapa yang akan hanyut dalam luka

yang sadar atau tidak sadar aku petakan dalam wilayah abu-abu kehidupan yang puritan

 

tak pernah kutanyakan

mengapa gerimis kerap datang bulan Desember

karena kutahu kerinduannya adalah kesetiaan

 

yang tak pernah aku mencari jawab

mengapa kau tak mendatangi kesunyianku

debu-debu yang diterbangkan angin lalu

mempersaksikan kau juga aku pada suatu jejak

tapi, selalu ada letupan halus dalam hatiku

yang pelan-pelan membakar kecemburuanku yang kering

mengapa selalu kau simpan pertemuan itu

dan akhirnya kau menangis entah untuk siapa

 

lantas, kau juga aku melakoni kesibukan

dan arah yang kian memisahkan, kembali selalu tak berdaya dalam hempasan arah

dan kehendak bayangan

 

kau juga aku mengores kenangan pada ambisi kemenangan

dengan menumpang perahu yang kini berbeda tujuan

kita pun kembali jadi buih

dekapan hanyalah momen pendek

yang mengukuhkan kesementaraan

seperti seorang sufi

mengekalkan doa dengan cara yang nakal–

seperti nakal tanganmu mengelus milikku

seperti nakal tanganku mengelus milikmu–

di pintu surga

 

pada suatu ketika, di suatu tempat

kita saling bicara lagi tentang seribu isyarat

dan hadirnya kembali sesuatu yang hilang

dalam bara api unggun kita

saling menyapa

akan rindu yang sempat menguap

dan kealpaan yang sempat dikoreksi

 

pada suatu ketika, di suatu tempat

hati kita bicara lagi

tapi entah di halaman berapa kisahnya

mungkin pada bab linang air mataku

yang kautelan dengan sepenuh hati

rasa asinnya cinta yang dijajah kebebasan

 

diamku adalah rentetan peluru

yang diam-diam selalu kubidikkan

selalu kubidikkan

ke jantungmu!

 

melintas bayangan memanjang

menerawang kenangan separuh usia di sudutnya

entah bicara apa kita?

musim telah berganti

angin elah berganti

dan aku, pundak bersandar suami kini–

yang kosong omong kalau tak aku kagumi–

mau bicara apa lagi?

semua pilihan telah kutempuh

 

musim telah berganti

angin telah berganti

 

yang sama cuma air mata

entah apa: bermanis depan suami

atau tetap memilih miris dan segala nyinyir

dan ataukah kita tetap menjadi pencuri waktu

dari pasangan-pasangan kita?

demi segala pertaruhan rasa

dan segala pembuktian ritus berahi kita

menghujam-hujam bagian terdalam yang amat sakral

 

kau saksikan aku di sini

aku begitu manis menjadi putri

dengan seribu bunga dan ucapan selamat

aku berharap ada ketentraman dan pengorbanan

yang kupilih demi siapa pun yang aku ciptakan

sedang rasa dan segala rahasia, hanya episode

yang dititipkan waktu; demi sebuah alur dan menjulur

entah alur kesekian atau tidak, kau aku akan menjalani sempit dan rasa yang terurai sepersekian sisa usia kita

kadang aku juga paham, cinta tak harus memiliki

tapi cekikannya tak gampang melayang

 

aku ingat kau berkata kepadaku,

“kalau rasa dan rahasia menjadi modal yang andal

ssstt… jangan bilang-bilang, kau bakal menempuh alam gaib dari ikatan pernikaha, sedang kau dan aku lebih dulu membuat petanya

semoga tak lupa jalan pulang”

 

janganlah kita saling menyaingi

sinar cahaya sehidup semati

angin menembus pucuk bambu

harus ada merunduk salah satu

karena aku cinta kamu,

dengarkanlah itu!

 

kalau membaca catatan ini di tanganmu,

kumohon sedikit saja berdoa

agar senantiasa kuasa menahan air mata

agar senantiasa kurasakan garam cintamu

yang membelah dan mengalir ke dalam kerongkonganku

 

angin, helai-helai tempias hujan

dan alis mataku yang mencair,

tak ada akhir atau alamat yang sesuangguhnya dari setiap nama yang kita ciptakan,

kecuali perkenalan kita….

 

 

Bandung, 23 Juni 2016

Tanti Kuben Koko

 

Image Credits: , Public Domain

Apa pendapatmu?

logo-200x150

Kontak

Jl. Raya Bandung - Sumedang KM 21 Jatinangor, Sumedang

admin@ikasadaya.id

Copyleft 2017 © IKA Sadaya UNPAD