Boven Digul dan Rengganis

Boven Digul dan Rengganis

Sisca Viasari

Boven Digul, Januari 1931

Soedjono terus berlari. Menebus pekat, menggapai-gapai kabut yang tak jua tersibak. Ia berharap saat ini bulan ada dalam genggaman, menerangi sedikit saja asanya untuk merdeka. Setidaknya merdeka dari malam ini. Malam yang gelapnya lebih pekat dari Badar Wulung1. Rengganis sudah jauh tertinggal di belakang. Kakinya tertembak tentara Belanda yang  mengejar.  Soedjono  berniat  menolong,  tapi  Rengganis  melarang  dan menyuruhnya

pergi. Kata gadis itu, dia tidak harus menolong kemudian kembali lagi ke sana; Penjara dunia itu. Soedjonopun meninggalkannya dengan urai airmata.

Lelaki kecil itu yakin, dengan berlari lagi sedikit saja, dia akan bertemu dengan  savana di depan sana dan tidak akan lagi ada di hutan. Savana itu. Tanah harapannya. Merauke.

Setelah itu, mungkin dia bisa membuat kapal, berlayar ke Australia atau menyusup ke kapal apa saja yang menuju Jawa. Itulah cita-citanya. Cita-citanya juga cita-cita Rengganis. Tapi karena Rengganis tak lagi bersamanya, kini cita-cita itu hanya akan menjadi cita- citanya. Ia ingin bebas merdeka. Tapi savana bagai tak tercapai jua. Selama kakinya berderu berhari-hari, hanya ada hutan lebat, pekat dan hitam di depan mata.

**

RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Maret 2000

 

Seorang pengacara muda, menutup pintu kamar tempat kakeknya dirawat. Matanya sembab, pertanda kurang tidur. Sebelum benar-benar keluar, dia melihat kakeknya tidur dengan wajah sudah sangat tenang. Dua hari yang lalu, strokenya kumat, yang menyebabkan orang kedua terdekat setelah orangtuanya itu terbaring lemah disini. Ferry, demikianlah nama pengacara muda itu, menemui dokter yang merawat kakeknya.

“Keadaan Pak Soedjono sudah prima. Untunglah cepat dibawa kesini. Saya harap dengan dirawat beberapa waktu disini, kondisinya akan semakin membaik” Ujar  dokter senior kerabat ayahandanya.

“Syukurlah.” Tanggap Ferry.  Setelah berbincang cukup lama, pemuda itu berpamitan

pulang.

 

“Ferry,..” Langkahnya tertahan.

“Menurut suster yang menjaga, kakek Anda beberapa kali mengigau. Dia selalu menyebut dua hal dalam igaunya..”

“Apa,  Dok?” Tanya Ferry tak sabar.

“Boven Digul dan Rengganis. Apa Anda tahu?”

**

Merauke, 1931

Akhirnya savana itu!! Soedjono menjerit, berjingkrak-jingkrak. Dihadapannya kini adalah hamparan tanah seluas dunia dengan padang rumput sejauh pandangan mata. Tidak ada lagi hutan belantara. Hanya savana. Ini tanah kebebasan. Inilah Merauke itu! Beberapa ekor rusa yang sedang merumput berlari menjauh. Soedjono berteriak-teriak menatap langit sambil berkali-kali mengucap syukur. Tubuh Enambelastahunnya yang kerempeng terguncang-guncang karena tangis bahagia yang tak tertahankan. Ia merdeka! Setelah ini, hidupnya tidak akan sama lagi. Tidak akan sama lagi seperti di Boven Digul. Dia tahu, tidak semua orang di Boven Digul bisa merdeka seperti ini. Mereka akan mati sebelum hak kemerdekaan mereka raih. Dia mengeluarkan kertas, yang berisi alamat peninggalan seorang Belanda baik yang akan menolong orang-orang Boven Digul untuk eksodus ke Merauke. Alamat itu adalah alamat sebuah gereja Katholik. Dia masukkan kertas itu lagi dalam tas lusuhnya dengan penuh kehati-hatian. Akan dia jaga kertas itu dengan nyawanya. Kemudian dikeluarkannya kertas yang dia curi dari meja ketua kampung, tergesa Soedjono mencari batu dan mengasah pensil. Dia mulai menulis,

 

Merauke, 1931. Rengganis,

Tanah harapan itu akhirnya saya capai juga, sayangnya kamu tidak lagi bersama saya. Jika kau masih hidup, gapailah tanah impianmu ini juga. Disini saya akan menunggu.

 

Jakarta, April 2000

 

 

Rumah Duka. Jenazah bekas orang penting itu sebentar lagi akan dikebumikan.  Semua keluarga tampak sudah ikhlas dia pergi. Lantunan surat Yassin masih berkumandang lirih di ruang tamu kediaman mantan Jenderal besar. Semasa hidupnya Sang Jenderal adalah orang yang disegani, terbukti dengan banyaknya tamu yang takziah.

 

Ferry melihat sekeliling rumah. Sebentar lagi rumah ini akan sepi sekali. Tak akan didengar lagi lagu keroncong kesukaan kakeknya. Dia menghapus airmata. Kesedihannya bukanlah lantaran kakeknya itu pergi, tapi karena kenangan yang dia tinggalkan. Terlalu banyak dan terlalu manis.

Dia ingat kata-kata dokter sebelum kakek meninggal. Kakek selalu menyebut Boven Digul dan Rengganis dalam ketidaksadarannya. Rasanya, ia perlu untuk tahu. Sehari setelah pemakaman, Ferry menemukan sebuah kotak kayu milik almarhum. Dia yakin, kakeknya menyimpan sesuatu untuk dia ungkap. Ferry berharap, kotak usang itu memberi banyak informasi. Beberapa lembar kertas lusuh yang berserakan didalamnya. Diambilnya lembar demi lembar dan membacanya.

 

Boven Digul, 1929

Saya Soedjono, umur 14 tahun. Dua tahun lalu, saya tiba di suatu tempat bernama Boven Digul bersama bapak dan ibu. Saya tidak ingat bagaimana kami tiba, tapi saya ingat bagaimana kami berangkat kesini. Bapak dituduh ekstimis dan kami diberangkatkan dari  Pati ke suatu tempat, bersama ribuan orang lain yang didaratkan oleh Belanda di sebuah sungai.

Setelah itu, kami berjalan puluhan kilometer jauhnya kesini. Katanya, bapak seorang pemberontak dan dia ditangkap. Dia bersama teman-teman seperjuangannya dibuang ke penjara. Penjara yang dikelilingi hutan dan rawa. Ternyata ini bukan penjara dalam arti sesungguhnya. Bukan sekotak kamar sempit pengap dan bau. Ini sebuah hutan belantara dan kami bebas hidup didalamnya, tanpa dibatasi kotak berjeruji. Disini, tidak ada jalan keluar kecuali melalui hutan lebat itu atau sungai dan rawa yang banyak ular dan buaya.

Kami tinggal dalam barak-barak. Belanda janji akan membuatkan rumah yang layak untuk kami. Setahun kami di Boven Digul, rumah-rumah sederhana terbangun. Terbentuklah kampung-kampung. Beberapa dari kami menyebut diri kami ini kaum terbuang. Kaum terbuang ini berusaha untuk hidup normal meski semuanya tidak bisa normal. Segala  ideologi dan pemikiran perlahan mati karena kami hanya memikirkan perut dan perlindungan diri dari bahaya. Belanda bilang, resiko yang kami hadapi jika mencoba melarikan diri adalah kami akan diterkam binatang buas atau suku kanibal, yang senang memakan otak manusia. Sementara berdiam di kampung hanya akan dapat makanan seadanya.

Kami kelaparan. Nyamuk disini juga kejam-kejam. Mereka tidak dapat dibunuh  hanya dengan ditepuk, tapi harus dipenyet-penyet hingga kami yakin nyamuk itu sudah  mati.

 

Sesudah nyamuk yang menggigit kami mati, kami tinggal menunggu, apakah kami akan terkena malaria.

Saya melihat satu persatu orang mati. Sebabnya karena sakit malaria, kelaparan, tubuh yang ditemukan di hutan terkoyak binatang buas atau kepala terpancung. Selain melihat mereka satu persatu mati, saya juga melihat mereka satu persatu menjadi gila. Bahkan seseorang yang dulu paling perkasa menyuarakan kemerdekaan, kini duduk terpaku lesu dengan kaki terpasung. Dipasung oleh keluarganya sendiri.

Kemudian, bencana itu menimpa keluarga saya juga. Bapak saya sakit parah. Demam. Bapak terserang penyakit yang kata orang Belanda adalah black water fever. Karena satu gigitan nyamuk yang tak juga terobati, kencing bapak perlahan menghitam dan mengental,

Ferry menarik napas sejenak, kemudian dia ambil lembar kertas kedua dan seterusnya.

Tubuh bapak mengejang dan bergerak-gerak tidak terkendali. Dari anunya terus menerus keluar cairan hitam. Ketua kampung bilang ini sudah tidak ada harapan. Bapak akan mati. Ibu menangis sambil memegangi perutnya yang buncit karena hamil adik saya. Sejak kematian bapak, saya mulai ikut perkumpulan yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Perkumpulan pemimpi kemerdekaan.

Ternyata suluh itu masih menyala. Suara kemerdekaan masih ada, meskipun lirih terdengarnya. Saya mendengar orang-orang membicarakan tentang Merauke. Tanah harapan. Beberapa orang yang berhasil melarikan diri ke Merauke hidupnya sudah tenang. Mereka bisa menyusup ke pedalaman dan membuka lahan pertanian. Merauke sangat sangat luas dan tidak mungkin Belanda repot-repot mencari. Mereka bisa menetap disana, atau lari ke Australia dan ke Jawa.

Merauke hanya beberapa jengkal saja dari Boven Digul tapi untuk pergi kesana taruhannya hidup atau mati. Belanda saat itu mungkin berhasil menghancurkan pemikiran- pemikiran cerdas dan ideologi, tapi tidak bisa menghancurkan semangat untuk merdeka.

Rengganis, bocah perempuan berusia 16 tahun, adalah satu-satunya  perempuan yang ada diperkumpulan itu. Jauh sebelum saya bergabung dalam perkumpulan ini, Rengganis sudah mulai tergila-gila pada Merauke. Dia bercita-cita ingin melarikan diri kesana. Dia mengajak saya bermimpi yang sama. Jika sudah sampai disana, kita bisa lari ke Jawa, katanya. Saya diam mengingat ibu. Ibu hamil, tidak mungkin saya ajak lari. Beban Rengganis sudah sedikit ringan. Dia yatim piatu, bapak dan ibunya sudah meninggal tak lama setelah tinggal di Boven Digul. Dia cerita bapaknya mencari kina ke hutan untuk

 

mengobati malaria ibunya, namun takdirnya harus mati dipenggal orang-orang kanibal. Ibunya meninggal karena tak tertolong.

Musibah kedua terjadi pada saya. Ibu melahirkan, tanpa bantuan siapapun. Ibu saya mati. Adik saya juga ikut mati. Saya sebatang kara. Tempat berlabuh saya kini hanya Rengganis. Kamipun jadi saling membutuhkan satu sama lain. Tanpa kami sadari, kami berdua mungkin sudah jatuh cinta dan tidak ingin saling melepaskan. Mimpinyapun akhirnya menjadi mimpi saya juga.

Ferry mengambil kertas lainnya,

Boven Digul, 1931

Umur saya kini 16 tahun dan Rengganis 18 tahun. Saya dan Rengganis merasa  bahwa persiapan kami untuk kabur dari Boven Digul sudah sangat matang. Pertemuan- pertemuan sembunyi masih dilaksanakan. Mereka merencanakan eksodus ke Merauke. Seorang tentara Belanda yang pro terhadap pejuang-pejuang Indonesia ini akan membantu rencana eksodus itu. Tapi rencana itu harus mereka kubur dalam-dalam, si Belanda baik hati itu ditemukan mati di hutan. Dia dieksekusi karena ketahuan membantu interniran. Saya dan Rengganis bertekat melanjutkan rencana itu berdua saja.

Setelah dirasa cukup siap, saya dan Rengganis keluar kampung. Kami sengaja memilih malam sehari setelah purnama habis. Gelap gulita. Saya yakin, dengan malam segelap itu, kucing hutanpun tak akan sanggup menemukan kami.

Dalam otak saya, sudah terbayang negeri savana yang damai itu. Yang hanya berisi orang-orang yang berdo’a. Negeri para misionaris dan Belanda yang baik hati. Saya tinggalkan makam bapak dan ibu di Boven Digul. Kelak jika Indonesia merdeka saya akan mengunjungi makam mereka untuk ziarah.

Siang hari, kami sembunyi. Mencari gua atau semak belukar yang lebat. Kami tak mau menanggung resiko tertangkap tentara Belanda yang rajin menyisir hutan atau suku- suku kanibal yang rajin mencari otak manusia. Kami berjalan hanya dimalam hari. Itupun disertai do’a agar bulan tak muncul dan menerangi bayangan kami. Saya rasa kami sudah jauh. Sangat jauh dari Boven Digul. Kami tidak akan tertangkap oleh Belanda.

“Kita hampir sampai” bisik Rengganis. Dia melihat peta yang digambar seadanya oleh orang di perkumpulan. Peta yang digambarkan hanya sebentuk lingkaran tak beraturan dengan titik-titik dan tulisan Boven Digul dan Merauke. Sama sekali tidak saya mengerti. Rengganis melihat kompas yang dia curi dari ketua kampung.

“Letak Merauke  itu di selatan. Kita harus terus bergerak ke arah selatan. Kesana.”

 

Malam turun, kami bersiap untuk jalan lagi. Tapi baru beberapa menit kami berjalan, serentetan peluru menghujani kami. Saya dan Rengganis lari tapi, peluru memilih kaki Rengganis dan dia jatuh tersungkur. Saya berbalik arah.

Tidak, saya tidak mau Rengganis tertangkap sendiri. Kebingungan melanda antara tidak mau lagi kembali ke Boven Digul atau menolongnya. Disatu sisi saya sudah tidak ingin lagi kembali ke daerah itu; Penjara alam terkejam di dunia. Saya ingin bebas, saya ingin ke Merauke. Tetapi Rengganis adalah satu-satunya cinta saya. Saya sudah tidak punya sesiapapun selain dia. Saya berlari menghampirinya, seraya mengulurkan tangan. Rengganis menepis.

“PERGI! Saya tidak mau kamu tolong. Pergilah sejauh mungkin kamu bisa. Jangan pedulikan saya”

“Tapi, Nis..”

“Kamu tidak perlu menolong saya kemudian kembali kesana. Pergilah! Saya akan baik-baik saja. Saya akan menyusulmu ke Merauke bersama yang lain”

“Kamu yakin Belanda akan mengembalikanmu ke Boven Digul? Atau kamu akan  mati disini?”

Saya lihat bayangan tentara Belanda menghampiri.

“Pergilah. Setidaknya, ada salah satu dari kita yang merdeka…”

Maka, saya memutuskan untuk lari dan lari saja menembus hutan. Maafkan saya Rengganis…

Saya berjalan dan menemukan pemukiman. Mungkin inilah kota Merauke yang termasyur di Boven Digul itu. Juga gereja yang dimaksud. Saya mengetuk pintu gereja  pelan, seorang Belanda berwajah sebersih malaikat membukakan dan saya dipersilahkan masuk. Lihatlah Rengganis, jiwa dan raga saya sudah bebas sekarang. Tidak ada lagi penderitaan itu. Saya akan belajar dan masuk tentara, supaya bisa bebaskan kamu dan teman-teman keluar dari Boven Digul. Tunggu saya Rengganis. Tunggu saya…

Ferry mencari-cari kertas lagi seolah ketagihan dengan sebuah cerita bersambung. Tapi tidak ada lagi. Semua kertas coretan lusuh itu sudah selesai terbaca. Kini dia sudah mengerti arti kata Boven Digul dan Rengganis seperti yang kakeknya igaukan. Ini sebuah misi, akan ia laksanakan. Segera ia menelpon kantor dan meminta cuti.

Aku akan ke Merauke, ke Boven Digul untuk mencari Rengganis cinta sejati kakek, gumamnya.

 


  1. Nama batu mulia yang berwarna hitam pekat.

 

Image Credits: , Public Domain

logo-200x150

Kontak

Jl. Raya Bandung - Sumedang KM 21 Jatinangor, Sumedang

admin@ikasadaya.id

Copyleft 2017 © IKA Sadaya UNPAD