Angin Mengirim Degup Mendung

Angin Mengirim Degup Mendung

Asep Romli

1

Angin mengirim degup mendung ke dalam rumah. Lewat lubang pintu Dan celah di jendela ia menyelinap. Siapa yang mengundang nestapa?

 

Tiba-tiba kau torehkan sayatan di raut batinku. Hingga aku tersedu menahan Gelombang perih yang sekonyong-konyong membeludak ke arahku

Sejauh ini, aku jarang sekali mengurai tangis. Meski musim dan segala iklim Telah memberondongku dengan hari-hari penuh keluh dan malam-malam Yang linu. Tak pernah sesesak ini. Tapi kini, seluruh perasaanku serupa kaca Terburai.Hancur berkeping jadi serpih paling poranda semisal abu

Dan hatiku diseret badai menuju entah. Mungkin nuju kehancuran paling lebur

 

 

Apa yang telah aku semai di jantungmu?

Hingga bisa sekeji ini kau menumbuk jiwaku. Menggerus setiap rindu

Jadi rasa ngilu: amarah yang tak mampu kulontarkan kepadamu. Lunglai tubuhku Ketika tahu bahwa malam telah merampas mimpimu: tak ada lagi aku di situ

Dan sewaktu kuintip igaumu, bukan pula namaku yang kauseru

 

 

Rinduku merayapi lorong-lorong kelam. Seperti sapaan yang tak lagi dihiraukan Kubayangkan kau mengencani malam dengan sinar bulan yang terang

Bersama ia yang telah memasung langkahmu agar tak berjalan ke arahku Sedang aku menekuni sunyi. Di beranda rumah ini, sendiri

 

 

2

Tidakkah terlintas di benakmu, bagaimana bila aku tak memiliki lagi Kekangenan pada rumah. Lalu merayakan malam-malam linu bersama mereka Yang memeram kesedihan. Menyusuri jalan untuk mengumpulkan kebencian

 

Dan kepada setiap orang yang kutemui aku sesumbar

Kuungkapkan tentang perilakumu yang keji. Serta persekongkolanmu Dengan ia yang telah menyebabkan hujan melebat pada mataku

 

Barangkali karena kau tahu, tak cukup keberanianku

Untuk menghunus dan meliarkan rasa dengki. Atau berkhianat pada musim Yang telah mempertemukan kita. Hingga dengan leluasa kau menyusun siasat Untuk melukaiku. Bisik lembut rinduku selama ini

Nyatanya tak mampu mengingatkanmu untuk mengkhidmati sebuah janji; ikrar Yang dulu sama-sama kita bisikan dengan syahdu. Makanya kini,

Aku sungguh sangat tersedu. Aku tidak tahu, bisakah kurekat lagi Segala yang sudah terburai?

 

 

—————————————————————————————————————

*Penulis adalah Alumni Sastra Indonesia Unpad, Angkatan 1992

 

Image Credits: , Public Domain

logo-200x150

Kontak

Jl. Raya Bandung - Sumedang KM 21 Jatinangor, Sumedang

admin@ikasadaya.id

Copyleft 2017 © IKA Sadaya UNPAD